5 RASIO WAJIB CEK SEBELUM BELI SAHAMScreening di Stockbit / RTI · 10 menit selesaiPER < 15×Price-to-Earnings — harga wajar vs labaPBV < 2×Price-to-Book — vs nilai buku asetROE > 15%Return on Equity — efisiensi modalDER < 1×Debt-to-Equity — utang tidak berlebihDividend Yield > 3%Dividen konsisten 3 tahun terakhir✓ 5/5 lolos = saham fundamental sehat
Investasi·4 menit baca·18 April 2026

Cara Analisa Saham Sederhana Sebelum Beli: 5 Rasio yang Harus Dicek

Cara analisa saham sederhana pakai 5 rasio kunci: PER, PBV, ROE, DER, dividend yield. Buat pemula yang mau berhenti beli ikut-ikutan grup.

Kemarin temanmu kirim screenshot: saham GOTO naik 8% dalam sehari. Kamu langsung buka Stockbit, transfer Rp 5 juta, beli di harga Rp 95. Tiga hari kemudian harganya Rp 78 dan kamu nyangkut. Kamu sadar kamu beli saham tanpa pernah tahu cara analisa saham — yang kamu tahu cuma kode tickernya dan opini orang di grup. Sekarang kamu bingung: harus cut loss atau hold? Padahal kalau kamu cek 5 angka sederhana sebelum beli, kamu sudah bisa tahu saham itu mahal atau murah.

Artikel ini kasih kamu 5 rasio fundamental yang bisa kamu cek dalam 10 menit di Stockbit atau RTI — tanpa perlu jadi analis CFA. Plus cara baca angkanya supaya kamu berhenti beli ikut-ikutan.

Kenapa Cek Rasio Lebih Penting daripada Dengar Rekomendasi

Di IDX ada 900+ emiten. Tapi yang sering dibahas grup Telegram cuma 20-30 saham yang lagi rame — biasanya yang lagi naik tajam atau yang ada rumor merger. Masalahnya, saham yang sedang viral hampir selalu sudah overvalued. Kalau kamu baru tahu dari grup, kamu beli di puncak dan jadi exit liquidity buat orang yang masuk lebih dulu.

Rasio fundamental itu seperti hasil medical check-up perusahaan. Angkanya keluar dari laporan keuangan resmi yang diaudit — bukan opini. Lima rasio yang akan kita bahas cukup buat saring 80% saham yang tidak layak dibeli, sebelum kamu lanjut ke analisa lebih dalam.

Saham yang dibahas 1.000 akun Telegram dalam seminggu rata-rata turun 12% dalam 30 hari setelahnya. Hype bukan sinyal beli — hype adalah sinyal terlambat.

Rasio 1-3: PER, PBV, ROE — Tiga Angka Wajib Pertama

Tiga rasio ini adalah jantung dari analisa fundamental saham. Buka Stockbit, ketik kode saham (misalnya BBCA), tap tab "Key Stats" — semua angkanya muncul di satu layar.

PER (Price to Earnings Ratio)

Berapa kali kamu bayar dari laba tahunan perusahaan. PER 15 artinya kamu bayar Rp 15 untuk setiap Rp 1 laba per tahun. Untuk saham bank besar (BBCA, BBRI, BMRI) PER wajar 10-18. Untuk saham consumer (UNVR, ICBP) PER wajar 15-25. Kalau PER di atas 40, ada premium tinggi yang harus kamu yakin alasannya.

PBV (Price to Book Value)

Harga saham dibagi nilai buku per lembar. PBV 1 artinya kamu bayar persis sama dengan aset bersih perusahaan. PBV di bawah 1 berarti saham diperdagangkan lebih murah dari nilai asetnya — sering kali sinyal undervalued atau ada masalah serius. PBV di atas 5 untuk perusahaan non-tech sudah mahal.

ROE (Return on Equity)

Berapa persen laba yang dihasilkan dari modal pemegang saham. ROE di atas 15% artinya manajemen efisien mengelola uang investor. BBCA biasanya ROE 18-22%. Hindari saham dengan ROE di bawah 8% — itu artinya uangmu lebih bagus di deposito BCA yang cuma butuh effort nol.

Baca juga: Beli Saham Ikut-Ikutan: Kenapa 85% Grup Telegram Saham Merugikan

Rasio 4-5: DER dan Dividend Yield — Cek Risiko dan Imbal Hasil

Setelah PER-PBV-ROE oke, dua rasio terakhir ini ngecek kesehatan utang dan apakah perusahaan bagi-bagi cuan ke pemegang saham. Dua angka ini sering diabaikan pemula, padahal yang menyelamatkan portofolio kamu saat krisis.

DER (Debt to Equity Ratio)

Total utang dibagi modal sendiri. DER 1 artinya utang sama besar dengan modal. Untuk perusahaan non-bank, DER di bawah 1 itu sehat, di atas 2 sudah merah. Saham seperti TLKM punya DER sekitar 0,7 — wajar. Hindari saham dengan DER di atas 3 kecuali kamu paham bisnisnya (misal bank, leasing, properti yang memang model bisnisnya leverage).

Dividend Yield

Persen dividen tahunan dibagi harga saham. Dividend yield 4-6% untuk saham bluechip Indonesia (BBRI, BMRI, TLKM, PTBA) artinya kamu dapat passive income kasar setara deposito sambil tetap punya potensi capital gain. Yield di bawah 1% berarti saham itu fokus growth, bukan income — pastikan ROE-nya tinggi sebagai gantinya.

Saham dengan DER di atas 3 dan ROE di bawah 8% punya probabilitas suspended atau delisting 4 kali lebih tinggi dalam 5 tahun. Cek dua angka ini sebelum apapun.

Cara Cek 5 Rasio Ini dalam 10 Menit

Workflow ini bisa kamu jalanin sambil ngopi. Tujuannya: saring dari 5 saham yang lagi rame jadi 1-2 yang layak masuk watchlist — bukan langsung beli.

1

Buka Stockbit atau RTI Business

Download Stockbit (gratis, terdaftar OJK) atau buka rti.co.id dari browser HP. Login pakai akun yang sudah terdaftar. Kalau belum punya, registrasi pakai email butuh 2 menit — belum perlu deposit.

2

Ketik kode saham yang mau dicek

Misal kamu penasaran BBCA karena baru lihat di feed. Ketik "BBCA" di search bar, tap nama perusahaannya. Buka tab "Key Statistics" di Stockbit atau "Fundamental" di RTI. Lima angka yang kita bahas tadi muncul di satu layar.

3

Bandingkan dengan benchmark sektor

Catat 5 angka tadi di Notes HP. Bandingkan dengan rentang wajar yang disebut di artikel ini — beda sektor beda standar. Untuk pembanding sesama bank, buka juga BBRI dan BMRI. Untuk consumer goods, buka UNVR dan ICBP.

4

Cek tren 5 tahun terakhir

Di Stockbit ada chart fundamental 5 tahun. Pastikan ROE stabil atau naik, bukan tren turun. Pastikan DER tidak melonjak tiba-tiba dalam 2 tahun terakhir. Perusahaan bagus konsisten, bukan one-hit wonder.

5

Tulis alasan beli sebelum eksekusi

Sebelum tap "Buy", tulis di Notes: kenapa kamu beli, di harga berapa kamu jual untung, di harga berapa kamu cut loss. Kalau kamu tidak bisa nulis 3 baris alasan, kamu belum siap beli — kamu cuma FOMO.

Baca juga: Profil Risiko Investasi: Konservatif, Moderat, Agresif — Mana Kamu?

Kamu sering beli saham karena ikut-ikutan grup atau influencer dan baru sadar nyangkut? Lihat panduan lengkap untuk situasimu

Kesalahan Umum yang Bikin 5 Rasio Jadi Tidak Berguna

Bandingkan apel dengan jeruk

PER bank tidak bisa dibandingkan dengan PER perusahaan teknologi. PBV consumer goods tidak bisa dibandingkan dengan PBV properti. Selalu bandingkan saham dengan kompetitor di sektor yang sama — kalau bingung, lihat saham lain di indeks IDX30 yang industrinya mirip.

Cek rasio tapi abai laporan keuangan

Lima rasio ini ringkasan, bukan keseluruhan cerita. Saham dengan PER murah bisa jadi karena labanya turun drastis tahun ini — yang artinya bukan bargain, tapi value trap. Buka laporan tahunan di idx.co.id minimal sekali sebelum beli posisi besar.

Lupa cek free float dan likuiditas

Saham dengan rasio bagus tapi volume harian cuma Rp 100 juta itu jebakan. Kamu masuk gampang, keluarnya susah. Pastikan rata-rata transaksi harian di atas Rp 5 miliar supaya kamu bisa jual posisi tanpa nge-drop harga.

Beli sekali besar, bukan dicicil

Walaupun rasio terlihat bagus, market bisa salah harga 1-2 tahun. Jangan langsung beli Rp 10 juta sekaligus. Pakai cicilan beli (DCA) tiap bulan Rp 1-2 juta — kamu rata-rata harga, bukan tebak puncak atau dasar.

Mau tahu apakah profil risiko kamu cocok untuk saham individu, atau lebih aman di reksa dana indeks? Cek kondisi keuanganmu sekarang — gratis, 5 menit, langsung dapat rekomendasi instrumen yang pas.

Situasi Terkait

Mulai Investasi

Bingung mulai investasi dari mana? Kami bantu tentukan instrumen yang cocok untukmu.

Lihat Panduan Lengkap →

Sudah paham teorinya — sekarang cek kondisi keuanganmu

Gratis · 5 menit · Langsung dapat rekomendasi personal

Cek Kondisi Keuanganku →

Mau tahu kondisi keuanganmu?